Puisi Cahaya Bulan

Malam ini, tiba-tiba saja aku teringat pada sebuah film yang sangat berkesan bagiku. GIE. Dan aku sangat menyukai puisi ini.

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa

Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap

Sambil membenarkan letak leher kemejaku

 

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih

Lembah Pandalawangi

Kau dan aku tegak berdiri

Melihat hutan-hutan yang menjadi suram

Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

 

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?

Ketika ku dekap, kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Apakah kau masih akan berkata

Kudengar detak jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua

Kecuali dalam cinta

 

Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan

Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu

Bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi

Sudah waktunya berdiri

mencari jawaban kegelisahan hati

~ oleh ferdy4681 pada Juni 5, 2011.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.