Hal Tersulit Dalam “Jatuh”
Jatuh, Bangkrut, Pailit, Rugi, Kegagalan, apapun itu namanya, tentu berasa tidak enak bagi siapapun yang mengalaminya. Tapi tentu saja, saya yakin, bahwa semua orang pasti pernah mengalaminya. Karena itu adalah bagian dari kehidupan. Apa sih yang paling nggak enak, yang paling menyebalkan, dan yang paling sulit untuk kita hadapi dalam kejatuhan, kebangkrutan, kegagalan dan kepailitan kita ?
Bagi saya, hal paling sulit yang harus saya hadapi saat mengalami sebuah kegagalan, adalah kenyataan bahwa banyak orang meninggalkan kita saat kita sedang jatuh. Kenyataan pahit yang harus kita terima, bahwa banyak orang berkumpul, bersilaturahmi, baik, akrab, hanya saat kita sedang berada di atas. Ibarat pepatah, ada gula ada semut. Sakit rasanya saat kita melihat orang-orang yang mungkin selama ini kita anggap teman, sahabat, atau bahkan kerabat, meninggalkan kita, justru di saat kita sedang membutuhkan banyak dukungan.
Belum lagi kalau mereka tidak sekedar meninggalkan kita. Banyak di antara mereka yang memberi kita bonus. Apa itu ? Bonus cemoohan, cibiran, dan hal-hal menyakitkan lainnya. Tapi haruskah kita bersedih, meraung-raung, meratap ? TIDAK. Semua adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Dan dariinilah kita akan jadi makin kuat, makin pintar, dan makin semangat. Dari ini pula, kita akan tahu mana orang yang benar-benar ada bersama kita saat kita terjatuh. Ini adalah proses seleksi alam. Proses alamiah yang akan membantu kita. Kita tidak bisa percaya kata-kata ataupun janji. Tapi bukti nyata inilah yang akan menunjukkan sendiri pada kita. Kenyataan yang akan menyuarakan kata-katanya.
Jadi, untuk teman-temanku yang sedang terjatuh, gagal, atau sedang berada di posisi terbawah sekalipun, jangan menyerah. Tetaplah bersemangat. Karena roda memang berputar. Jadi janganlah takut. Sesekali di bawah dan sesekali di atas. Itu sudah hal yang wajar. Semangat !!!
