Ziarah Ke Banten Lama
Tanggal 7 Mei 2011, aku dan rekan-rekan melakukan ziarah ke pemakaman Banten. Bukan untuk apa-apa sih, sekedar ingin tahu tempat peziarahan yang banyak dibicarakan orang, dan ku pikir, apa salahnya berziarah sambil napak tilas.
Sampai di tempat, suasana tidak terlalu ramai, karena kami memang sengaja mengambil waktu di hari Sabtu, malam Minggu. Kebanyakan orang lagi ngapel, nge-date, dll. Kami malah ziarah. Kelihatan banget kalo jomblo.
Areanya cukup luas, penuh penjual di sepanjang jalan, ada museum, dan nuansanya mengingatkan saya pada nuansa di kawasan Borobudur. Dan seperti di tempat-tempat ziarah pada umumnya, ada beberapa hal yang membuatku sedih. Satu, kondisi kurang terawat, bahkan nuansa budayanya sudah banyak luntur. Bahkan tanah pemakaman sudah dipasang keramik semua. Tempat juga jadi kurang bersih. Bahkan tempat wudhu penuh lumpur. Katanya kebersihan adalah sebagian dari iman ? Kedua, banyak pengemis yang membuat nuansa kerohanian yang seharusnya didapat di sini, malah berubah jadi nuansa pasar yang penuh penjual dan peminta-minta. Ketiga, banyak orang salah niat. Datang ziarah untuk minta “sesuatu”. Ini yang membuat banyak orang jadi memandang miring pada orang yang berziarah.
Di sana aku bertemu dan berbincang-bincang dengan salah satu keturunan Kerajaan Banten. Alhamdulillah dapat beberapa masukan. Aku sih tidak melihat siapa yang berbicara, tapi lebih kepada apa yang dia sampaikan. Karena memang aku tipe orang yang tidak terlalu suka diikat oleh sebuah figur, atau mendewakan sebuah sosok figur. Dan hasil perbincangan kami inilah yang ingin aku share dengan teman-teman semua. Mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman.
Satu, banyak orang datang ziarah dengan niat macam-macam, dan meminta sesuatu pada makam tsb. Padahal meminta, haruslah pada Tuhan. Karena Dia-lah yang Maha Menentukan, Maha Memutuskan, dan Maha Memberi.
Dua, orang tersebut menyampaikan, bahwa orang kalau sudah pernah makan apel, maka tidak akan sulit untuk makan apel lagi. Maksudnya, kalau kita sudah pernah sukses, tidak akan sulit untuk meraih sukses lagi. Jadi jangan takut dengan kemunduran usaha, ataupun sebuah kegagalan.
Tiga, jadilah seorang insan kamil, sepertiĀ Nabi Sulaiman. Dalam sebuah kisah, setan bertanya pada Nabi Sulaiman. Setan penasaran melihat Nabi Sulaiman makin kaya, tapi makin dekat dengan Tuhan. Sedangkan kebanyakan manusia, makin kaya, akan makin jauh dengan Tuhannya. Nabi Sulaiman menjawab “Semua kekayaan ini adalah karena kebesaran Tuhanku.”. Jadi Nabi Sulaiman tidak merasa memiliki semua kekayaan itu. Semua itu ada, milik Tuhan, dan diberikan pada dia untuk dia gunakan. Tapi Nabi Sulaiman tidak pernah lupa, bahwa semua itu ada, dan dapat dia gunakan, hanya karena kebesaran Tuhan yang mengijinkan dia memakainya, bukan memilikinya. Jadi semua yang ada adalah milik-Nya, jadi kita sebagai manusia jangan lupa, teruslah bersyukur, merawat sebaik-baiknya, dan jalani saja.
Empat, banyak manusia salah karena terlalu berpikiran Haqul Milik, bukan Haqul Manfaat. Ibaratnya saya punya pohon Mangga. Kalau saya berpikir itu adalah haqul manfaat, dimana saya hanya berhak untuk mengambil manfaatnya, bukan memilikinya, maka saya akan merawatnya baik-baik, agar saya bisa dapat hasilnya. Sampai pohon itu benar-benar mati. Tapi kalau saya menganggap itu adalah haqul milik, maka sewaktu-waktu saya sudah bosan, atau saya menemukan pohon lain yang lebih bagus, saya akan menebang dan membuangnya. Toh itu haqul milik saya. Sama seperti orang memandang istri. Kalau itu adalah haqul manfaat yang diberikan oleh Tuhan, Insya Allah, seorang suami akan menjaga dan merawat istrinya dengan baik. Karena itu adalah titipan dari Tuhan, untuk dia ambil manfaatnya sbg seorang istri. Tapi karena banyak orang menganggap dia adalah haqul milik dia, maka setelah dia bosan, dia akan membuangnya. He…he…he…
Hal ini sangat berkesan buat saya. Saya jadi berpikir, bahwa saya pun harus memandang semua yang saya punya sebagai haqul manfaat. Harta, kesuksesan, kedudukan, termasuk istri (nantinya). Jadi kita juga harus siap kalau sewaktu-waktu semua itu dikurangi, atau bahkan diambil dari kita. Toh itu bukan haqul milik kita, hanya haqul manfaat. Dan kalau semua itu dikurangi atau diambil sekaligus, kita harus introspeksi diri, mungkin kita kurang merawat, sehingga yang menitipkan semua itu pada kita mengambilnya sebagian, atau bahkan semuanya sekaligus.
Terakhir beliau berpesan, janganlah kamu terlalu mencintai kesuksesan, karena di depan kesuksesan akan ada kegagalan. Dan janganlah kamu terlalu membenci kegagalan, karena di depan kegagalan ada kesuksesan. Kegagalan dan kesuksesan adalah sepasang pengantin nasib, yang memang tidak akan bisa dipisahkan. Ada masanya untuk sukses dan akan ada masanya untuk gagal. Semua itu sudah hal yang lumrah. Seperti siang dan malam, baik dan buruk, panjang dan pendek. Semua itu sudah diciptakan Tuhan berpasang-pasangan. Jadi kenapa harus takut ? Kita tidak bisa menghindari malam, untuk menuntut agar kita selalu alami siang hari. Mungkin orang berpikir, malam adalah waktu yang tidak produktif. Tapi malam memang diciptakan agar kita bisa beristirahat. Sudah kodratnya begitu. Walaupun pada kenyataannya, banyak orang bekerja di malam hari. Nah, anggap saja kegagalan, atau kemunduran kita sebagai sebuah masa, dimana Tuhan ingin kita beristirahat sejenak. Beristirahat dari kesuksesan, dari kesibukan, agar kita tidak over load, atau membuat kita menjadi lebih kuat dan segar, dengan ide dan kehidupan baru nantinya.
Semoga Tuhan memberikan petunjuk-Nya, agar kita semakin bijak dan dewasa memandang arti kehidupan.
