Filsafat Permen Karet

Bagiku, kebahagiaan itu seringkali seperti permen karet. Terasa sangat manis di awal, dan kita begitu suka utk mengecapnya. Namun setelah lama mengecap kebahagiaan itu, rasanya akan semakin hambar. Dan hal yang paling menyedihkan, adalah saat rasa itu sudah tidak ada. Pada akhirnya kita dihadapkan pada 2 pilihan besar, yg sama-sama tidak enak. Satu, haruskah kita membuang permen karet itu, karena rasanya sudah hambar. Atau pilihan kedua, kita tetap berusaha untuk mengecapnya, walau sudah tidak ada rasa, atau bahkan semakin lama semakin membuat kita mual dan terasa memuakkan, karena tak ada lagi rasa, bahkan bercampur dg semua kotoran dan bau mulut kita. Lalu dimanakah kebahagiaan sejati? Kebahagiaan yang tidak pernah luntur. Kebahagiaan yg tidak berbatas. Yang tidak akan pernah membuat kita untuk memilih, tetap mengecapnya walau hambar dan bahkan memuakkan, atau merelakan untuk meludahkan dan membuangnya.

Berapa banyak orang yang berusaha memaksakan diri untuk tetap mengunyah kebahagiaan dan sebuah kebersamaan. walau rasanya sudah sangat hambar. bahkan beberapa membuat mereka muak, membuat mereka menderita, dan dikekang oleh rasa tidak nyaman. Berapa banyak orang berusaha mempertahankan kebahagiaan, dan kebersamaan, tidak rela untuk membuangnya, karena mereka takut, tidak ikhlas, dan tidak ingin kehilangan.

Tapi bagiku, ikuti saja semuanya. Kunyah dan kecaplah selagi bisa. Jika memang Tuhan ingin kita membuangnya, maka kita harus ikhlas melepas kebahagiaan itu, ataupun sebuah kebersamaan. Jika memang itu yang Tuhan inginkan, Tuhan pasti akan menggantinya dengan permen karet yang baru. Kebahagiaan dan kebersamaan yang baru, yang mungkin lebih manis. Tapi satu hal kita harus tahu, bahwa kebahagiaan hakiki, hanyalah dari-Nya. Jadi, kejarlah bahagia dunia semampu kita. Tapi tidak perlu menuntut kebahagiaan yang sempurna. Syukuri saja. Karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kebahagiaan dunia hanyalah kebahagiaan permen karet. Kebersamaan di dunia hanyalah kebersamaan permen karet. Kejarlah akhiratmu. Karena itulah yang kekal. Kebahagiaan, dan kebersamaan di akhiratlah, yang kekal, untuk selama-lamanya. Dan bukankah dunia memang diciptakan sebagai tempat ujian? Jadi kalau kita bahagia di dunia, maka itu adalah sebuah bonus dari Tuhan yang harus disyukuri dan dijaga. Karena itu bonus di sebuah alam, yang merupakan tempat ujian bagi kita.

~ oleh ferdy4681 pada April 12, 2011.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.